Rabu, 20 Mei 2009

Mengapa Timbul Stres?

Sebuah pertanyaan besar: mengapa seseorang mengalami stres?
Pertanyaan ini perlu dijawab terlebih dahulu, sebelum kita memikirkan solusi-solusi kreatif untuk mengatasi stres. Banyak hal yang bisa menimbulkan stres, baik berupa perkara yang besar atau perkara yang sepele. Kematian pasangan hidup (suami atau istri) merupakan faktor pemicu stres yang telah dikenal secara luas. Di Amerika, ia menjadi pemicu stres peringkay tertinggi. Bagi sebagian orang, hal-hal sepele juga bisa menimbulkan stres, misalnya kebiasaan mengecap makanan sambil berbunyi, mendengkur ketika tidur, meludah disembarang tempat, dan lain-lain.
Pemahaman terhadap faktor-faktor penyebab terhadap stres sangatlah penting. Ibarat sebuah pohon, untuk mengetahui dimana ujungnya, maka kita harus melihat dari akarnya. Memahami akar setiap persoalan akan menuntun kita kearah solosi persoalan tersebut, insya Allah.
Sebab-sebab stres sebenarnya mudah dipahami. Seseorang tinggal bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa saya merasa cemas? Maka berbagai kenyataan yang memicu kecemasan, menekan perasaan, mengeruhkan pikiran, dan menyempitkan dada, semua itu merupakan faktor penyebab stres.
Dari berbagai sumber, terdapat berbagai versi faktor penyabab stres, namun rata-rata mengarah kepada penjelasan yang sama. Di bawah ini saya paparkan delapan faktor penyebab stres menurut saya sendiri. Faktor-faktor itu belum mencakup keseluruhan faktor yang ada, namun insya Allah telah mewakili faktor-faktor terpenting di antaranya. Dalam hal ini saya mencoba bersikap mandiri, tidak mengutip dari sumber-sumber tertentu.
A. Musibah Berat
Musibah berat merupakan sebab stres yang paling mudah dipahami. Musibah berat terutama berupa kematian orang-orang yang dicintai. Kematian bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara mendadak. Kematian menndadak rata-rata menimbulkan stres berat. Apalagi jika peristiwa yang menimbulkan stres itu merupakan peristiwa tragis, misalnya bencana alam kecelakaan, aksi kriminal, serangan terorisme, dan lain-lain.
Belum lama ini, masyarakat indonesia harus berurai air mata dengan terjadinya gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD), pada 26 Desember 2004. tidak terkirakan betapa hebatnya dampak dari bencana itu. Sejak kita mengenal istilah Indonesia, belum pernah terjadi bencana alam sedahsyat itu. Ratusan ribu jiwa manusia menjadi korban, kota-kota hancur, kehidupan seolah kembali ke titik nol lagi.
Selain korban jiwa, korban harta benda, hancurnya gedung-gedung, jalan raya, serta berbagai fasilitas sosial, persoalan lain yang tidak kalah mengerikan, yaitu fenomena trauma pascabencana. Sejak bencana terjadi, ribuan korban yang selamat dilanda stres hebat. Sebagian dari mereka takut melihat air, padahal semula mereka tinggal di kota-kota pantai, sebagian yang lain mereka mengalami guncangan jiwa kerena mereka telah kehilangan keluarga, teman-teman, lingkungan, atau boleh jadi kehilangan harapan akan masa depan. Pemerintah bukan saja wajib memulihkan kota-kota di Aceh, namun juga memulihkan rasa percaya diri masyarakatnya.
Siapa pun yang kehilangan keluarga atau apa pun yang dicintai, pasti akan merasa stres (tertekan). Jika proses kehilangan itu terjadi mendadak, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, sifat tekannya jauh lebih berat. Wajar jika Allah akan membalas kesabaran orang-orang yang tertimpa musibah itu dengan surga.
Rasulullah saw. Bersabda,
“Allah ta-ala berfirman, ‘tidaklah seorang hamba-ku yang beriman akan menerima balasan di sisi-ku, ketika Aku ambil kekasinya dari kalangan ahli dunia (manusia yang hidup didunia), kemudian dia mengarapkan pahala dari-Ku (setelah kejadian itu), melainkan (balasanya) surga.” (HR Bukhari)
Kita berlindung kepada Allah agar tidak tergelincir hati karena tertimpa musibah. Kita berlindubg kepada-Nya dari musibah yang datang secara tiba-tiba, yang bisa mengempaskan hatike dalam kesedihan yang mendalam. Kita pun berlindung dengan keagunggan-Nya dari menanggung sesuatu yang tidak kuasa kita memikulnya. Allahumma amin.
B. Kesulitan Ekonomi
Kesulitan ekonomi merupakan faktor penyebab stres yang sangat populer. Bulan juli tahun 2003, PT Dirgantara Indonesia (PTDI,dulu IPTN) merumahkan sekitar 9600 karyawannya (3000 di antaranya dipanggil bekerja kembali). Langkah ini merupakan PHK besar-besaran setelah PTDI juga merumahkan ribuan karyawannya di tahun 2000 (Metro Bandung, juli-agustus 2003).
Sebagai keputusan manajemen, PHK bisa dimaklumi. Jika PTDI sudah tidak mampu lagi menggaji pegawainya, apa boleh buat? Namun, ongkos sosial di balik keputusan PHK itu sangatlah pahit. Ribuan karyawan dan keluarganya merasa sangat tertekan. Sebagian mereka mampu bersikap tegar, sebagain lain terpaksa berurai air mata, yang lainnya lagi menderita stres, bahkan ada yang sampai terganggu jiwanya. Semua ini merupakan ongkos sosial yang benar-benar harus dihitung oleh para elite manajemen sebelum mereka mengambil langkah dramatis.
Selain di PTDI, kasus PHK massal juga terjadi di berbagai tempat. Sejak krisis moneter 1997 terjadi banyak kasus PHK. PHK merupakan cara paling mudah bagi perusahaan-perusahaan untuk menyelamatkan bisnis mereka. Tentu saja kasus-kasus itu semakin menggelembunkan angka penganguran di tanah air. Lebih dari itu, ia melahirkan masyarakat stres.
Jika di lihat dari sisi positif, kesempitan ekonomi sebenarnya tidak perlu menimbulkan stres. Coba perhatikan kehidupan masyarakat dipedesaan. Mereka hidup dengan standar ekonomi yang jauh di bawah standar masyarakat kota, namun mereka tetap tenang, tidak menderita stres. Mangapa demikian? Mengapa masyarakat kota mudah stres sedang masyarakat pedesaan tidak?
Ada beberap alasan yang bisa dikemukakan, yaitu sebagai.
1. kehidupan masyarakat kota cenderung materialistis. Mereka lebih percaya dengan prinsip “uang adalah segala-galanya” daripada meyakini kemurahan Allah dan keluasan rezeki-Nya. Hati masyarakat kota cenderung terpaut dengan uang: jika ada uang hati tenang, jika tiada uang hati dipenuhi kecemasan. Dengan mutu keyakinan sepeti itu, wajar jika masyarakat perkotaan mudah menderita stres, mereka terlalu menggantungkan nasib kepada uang. Sumber ketenagan hati adalah Allah, bukan uang. Siapa yang menggantungkan diri kepada Allah, hatinya akan tenang. Pada gilirannya kemudian, dia jadi lebih mudah mencari uang.
2. keimanan yang lemah menimbulkan hasad (iri hati) kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan. Hasad berpotansi menghancurkan kebaikan,. Ketika orang dilanda hasad, dia meremehkan karunia Allah dan selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Mereka mencari harta bukan untuk dinikmati, tapi untuk memuaskan rasa iri di hati. Orang-orang itu sangat suka membanding-bandingkan fasilitas milikinya dengan fasilitas yang dimiliki orang lain. Jika melihat orang lain lebih baik, mereka meresa tertekan sebelum bisa menyamainya. Tentu saja, tentu saja buah dari cara hidup seperti ini adalah: stres!
3. Gaya hidup boros (konsumtif) menyebabkan manusia selalu hidup dalam kekurangan berapapun pendapatan diperoleh, ia tidak pernah mencukupi, sebab belanja yang dikeluarkan selalu lebih tinggi dari pendapatan yang diperoleh. Seperti kata pepatah , “ besar pasak dari pada tiang.” Ketidakseimbangan antara pendapatan dan belanja memaksa banyak orang melakukan cara apa pun untuk menutupi kekurangan. Bagi yang jujur, meraka lebih bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Paling tidak, meraka akan meminjam uang kepada sumber-sumber tertentu. Namun bagi orang-orang yang gelap mata mereka akan menempuh cara kriminal, menipu, atau melakukan korupsi, jika sikap membabi buta itu terus diikuti, jiwa mereka semakin tertekan oleh rasa bersalah dan dosa. Pada titik tertentu, ketika tekanan perasaan sudah sangat berat, stres pun terjadi.
4. Masyarakat kota banyak yang telah meremehkan kepentingan akhirat. Mereka beragama, namun tidak menjalankan niali-nilai agama itu. Perkara-perkara haram diterjang, barang syubhat digeluti, kezaliman dianggap biasa, manipulasi, korupsi, menjadi tradisi. Mereka hidup tanpa arah yang jelas , selain untuk dunia itu sendiri. Mereka lebih tampak sebagai hamba dunia daripada Allah. Hal ini tentu sangat potensial melahirkan kesengsaraan jiwa, keresahan hati, dan aneka rupa kesulitan hidup. Na’udzubillah min dzalik.
Keyakinan yang lemah membuat kita tidak kuasa menghadapi gempuran-gempuran budaya materialisme. Kita sangat terpengaruh terhadap budaya itu, lalu hidup merana sambil menaggung stres. Seharusnya, kita berpegang kepada tali agama Allah, sebab ia adalah sekuat-kuat tali pegangan.
“Maka barangsiapa yang mengingkari thagut (sesembahan apapun selain Allah) dan dia beriman kepada Allah (bertauhid), maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui .” (al-Baqarah[2]:256)
C. Kegagalan Usaha
sebab lain yang sering menimbulkan stres adalah kegagalan.kadang terjadi di sela-sela sukse yang di raih. Namun kadang ia terjadi beruntun, satu kegagalan diikuti kegagalan-kegagalan berikutnya. Ada ungkapan bijak, “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.” Sayang tidak semua orang tidak mau belajar dari ungkapan itu. Bahkan mngkin, di antara meraka ada yang belum pernah mendengar ungkapan itu sama sekali. Menyedihkan!
Bagi orang-orang arif, kegagalan dianggap sebagai peristiwa hidup biasa. Akan tetapi, di mata mausia pesimis, kegagalan dianggap bencana besar. Kegagalan mereka tafsirkan sebagai nasib hidup, aib memalukan, bukti ketidakbecusan diri, bukti bahwa hidup ini kejam tanda masa depan suram, dan berbagai tafsiran buruk lainnya. Di mata orang-orang itu, kegagalan bernialai sangat suram. Padahal, setahu saya, tidak satu pun orang sukse yang manusia peroleh melainkan sebelum itu telah terjadi kegagalan-kegagalan. Justru sukses itu terjadi berharga karena sebelumnya telah terjadi berbagai kegagalan.
Seorang mubalig kondang mengatakan “Kegagalan itu tidak ada. Yang ada adalah tidak berani mencoba.” Menurut saya, kegagalan itu jelas ada, sebagaimana sukses juga ada. Mengingkari kegagalan, justru sulut dimengert. Salah satu rukun iman adalah percaya kepada takdir (takdir baik dan takdir buruk). Di antara contoh takdir buruk adalah kegagalan, soal berani mencoba atau tidak, itu adalah soal sikap. Ia tidak bisa dijadikan alasan untuk mengingkari kegagalan.
Kegagalan semestinya tidak perlu ditakuti. Allah Maha Pemurah, jika seseorang telah berusaha secara layak, dia pasti akan diberi karunia kebaikan, mungkin saja, sebelum karunia itu diberikan, perlu terjadi kegagalan-kegagalan tertentu. Semua kegagalan tersebut terjadi hanya sekedar sarana untuk memastikan bahwa kita telah bekarja secara layak dan kita telah siap memikul karunia. Allah tidak akan menzalimi manusia, sekalipun mereka kafir.
Di zaman dulu, orang-orang jepang sangat hebat dalam berjuang. Di kalangan mereka ada tradisi yang sangat buruk, yaitu harakiri (bunuh diri). Kalau seseorang gagal dalam usaha, dia meresa malu, lalu melakukan harakiri untuk menebus rasa malu. Di suatu tempat sunyi, pelaku harakiri akan membelah atau menusuk perutnya sendiri dengan samurai khas jepang, lalu mempersembahkan kematian itu untuk matahari. Nau’dzubillah wa na’udzubillah.
Kita pun bertanya-tanya, mereka telah berkorban luar biasa, lalu kapan mereka akan menikmati hasil perjuangannya? Ketika hidup di dunia, mereka tidak kebagian, lalu dengan bunuh diri mereka kehilangan harapan di akhirat. Allah murka terhadap orang waras yang mengakhiri hidupnya denaga bunuh diri. Di sini kita menjumpai bukti kemuraha Allah. Meskipun para pelaku harakiri itu telaj menempuh cara yang sangat hina dan tercela, Allah tetep membalasi pengorbanan mereka denagn cara memberikan kemakmuran kepada anak-cucu mereka. Generasi baru jepang tinggal menikmati hasil pengorbanan para pendahulu mereka.
“…..Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami memberikannya kepadanya. Dan siapa yang menghendaki pahala akhirat, niscaya kami berikan (juga) ia kepadanya. Dan kami akan memberikan balasan bagi orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran [3]: 145)
Ini hanyalah penegasan bahwa kegagalan itu biasa dan setiap usaha manusia tidak ada yang sia-sia. Semua pengorbanan manusia akan dibalas oleh Allah ta’ala, baik berupa balasan dunia maupun akhirat. Tinggal kita mw bersabar atau tidak menanti balasan itu.
D. Tekanan Rasa Jenuh
Sebab selanjutnya yang potensial menimbulkan stres adalah kejenuhan. Kejenuhan adalah “penyakit” yang menekan jiwa. Orang jenuh ibarat badan yang tegap, besar, kekar, tapi tidak mempunyai tenaga. Fisiknya kelihatan bagus, tapi daya tidak ada. Hilangnya kekuatan ini bukan kerena tidak makan, akibat keracunan, menderita sakit, atau habis bekerja berat. Ia terjadi justru karena hilangnya minat, muncul resa segan dan bosan terhadap kesibukan yang dilakukan secara berulang-ulang.
Kita bisa membayangkan bagaimana rasanya jenuh melanda. Seseorang ingin terus bekerja, berkarya, atau menghasilkan sesuatu, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan kerena muncul rasa segan, tidak suka, atau benci di hati terhadap sesuatu berkembang bisa menimbulkan stres.
Sebuah cacatan menarik tentang perilaku hewan-hewan di kebun binatang. Penghuni kebun binatang rata-rata hewan liar yang biasa hidup di alam bebas, jauh dari kebisingan aktivitas manusia. Namun, setelah masuk kebun binatang mereka di paksa tinggal di kandang-kandang sempit, tidak bisa bergerak kemana-mana, hanya berputar di sekitar kandng itu. Makanan disediakan, tapi menunya sangat menonton. Di kebun binatang, binatang-binatang tidak mengalami pengalaman-pengalaman seperti di alam bebas. Kondisi ini sering meyebabkan hewan-hewan tersebut stres. Apalagi ketika kunjungan manusia ke kebun binatang sangat sering dan banyak , hal itu lebih menekan lagi. Jika hewan bisa stres, apalagi manusia.
Kasus serupa terjadi di ruang-ruang tahanan. Bagi mereka yang suka tantangan, tidak mau diam, atau tidak pandai mengisi waktu luang, mereka bisa mengalami kehancuran mental di dalam sel-sel tahanan. Berbeda dengan orang-orang yang suka belajar, membaca, atau merenung, penjara justru menjadi “surga” bagi meraka. Maka wajar jika di penjara sering terjadi kasus-kasus buruk, misalnya tawuran antarpenghuni. Mereka mencari sesuatu yang berbeda untuk megusir kejenuhan. Kejenuhan yang hebat bisa menimbulkan stres, sedang stres berat bisa membuat orang menjadi gila.
Saya sarankan anda membaca buku saya yang lain, mengatasi kejenuhan yang diterbitakn oleh khalifa (Grup Pustaka Al Kautsar) Jakarta. Di sana, pembahasan persoalan kejenuhan memperoleh porsi yang memadai.
E. Terlibat Konflik
Sebab lain yang memicu stres adalah konflik (permusuhan). Seseorang bermusuhan dengan orang lai, sebuah keluarga bermusuhan dengan keluarga lain, sebuah komunitas bermusuhan dengan komunitas lain, dan sebagainya. Konflik berpontensial menimbulkan stres.
Ada beberapa situasi buruk ketika konflik tengah terjadi dan hal tersebut sangat menekan jiwa. Situasi-situasi itu adalah sebagai berikut.
1. kedua belah pihak selalu meresa camas memikirkan ancaman-ancaman dari musuh-musuhnya. Mereka khawatir jika musuh tiba-tiba datang, menyergap, lalu menganiaya mereka.
2. kedua belah pihak merasa takut jika teman-temannya menghianati, atau musuh-musuhnya mendapat bala bantuan besar, atau rahasia kekuatan mereka terbongakar, atau ada mata-mata yang diseludupkan di tengah-tengah mereka .
3. ketika konflik telah menimbulkan korban, hal itu bisa menimbulkan trauma serius di hati keluarga korban dan pelaku kekerasan. Bagi keluarga korban, mereka sangat kecewa dan sakit hati; bagi para pelaku mereka selalu di hantui rasa bersalah. Munking membunuh nyawa seorang manusia iutu mudah tetapi mengusir rasa bersalah yang menghantui hati, bagaimana caranya?
4. ketika area konflik meluas, melibatkan banyak kekuatan, diketahui orang banyak, diwariskan ke anak-cucu, hal ini sama saja dengan menyebarluaskan kecemasan sehingga semakin meluas dan meresap dalam.
Dalam Islam kita dilarang berkonflik, kecuali dengan alasan yang benar dan dalam bata-batas yang diperbolehkan. Konflik dalam Islam bukan merupakan tujuan, hanya sarana untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Jika hidup ingin aman dan tentram, jauhilah segala bentuk konflik yang tidak perlu, terutama konflik dengan suadara. Jika konflik itu telah terjadi, padahal hal itu tak perlu terjadi, maka jangan malu-malu untuk mengalah atau meminta maaf terlebih dulu.
“sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan rahmat.” (al –Hujuraat [49]: 10)
F. Tekanan Lingkungan
Kita hidup tidak lepas dari lingkungan sekeliling, prajurit, dokter, pedagang, dan sebagainya, mereka semua memiliki lingkunagan sendiri-sendiri. Paling tidak, setiap orang memiliki keluarga dan keluarga merupakan lingkungan terkecil.
Hubungan antara seseorang dan lingkungan, kadang berjalan harmonis, namun kadang berjalan buruk. Situasi hubungan yang buruk sangat menekan peresaan, jika hal itu tidak segera di beri terapi, ia bisa memicu stres.
Saya pernah terlibat dalam suatu lingkugan yang penuh kepalsuan. Di mata umum, lingkungan itu terlihat sejuk, tentram, propesional, modern, dan maju. Namundi bawah permukaan kehidupan di sana sangat berat. Orang-orang di tempat itu sudah sepakat untuk menggunakan dua muka, muka dalam dan muka luar. Muka luar tampak sangat manis, tapi muka sangat seram.
Saya mampu bertahan di tempat itu kurang selama dua tahun. Sebagian besar disana saya lalui dalam tekanan stres berat. Bagaimna tidak, setiap hari harus melihat kepalsuan-kepalsuan yang mencolok mata? Apakah seseorang mampu terus-menerus menipu diri? Berulang kali saya mengutarakan niat ingin keluar dari tempat itu, namun belum menemukan jalan hingga suatu ketika, terjadi perselisihan antara saya dan pimpinan, hal itu saya jadikan kesempatan untuk menyelamatkan diri dari lingkungan tersebut. Walhamdulilah, setelah keluar dari lingkungan itu, berangsur-angsur hati mulai merasa lega dan lapang.
Kasus yang sama bisa dirasakan oleh siapa pun yang merasa tertekan dengan situasi lingkungan. Di tengah masyarakat banyak terjadi kasus stres, misalnya seorang pembantu rumah tangga stres karena perilaku kejam majikan, seorang istri stres melihat tingkah suami, orang tua stres melihat tingkahlaku anak-anaknya, para pemimpin stres melihat sikap anak-buahnya (atau sebaliknya), seorang pelajar stres melihat situasi kelas yang buruk, dan lain-lain.
Lingkungan adalah sesuatu yang maya (tidak teraba), namun jika bermasalah dengan lingkungan, resikonya pahit. Jika seseorang bermasalah dengan lingkungan dan dia tidak menemui tititk-titik solusi atas persoalan itu, sebaiknya ia segera berhijrah ketempat lain.
Jika terus bertahan, stres akan semakin buruk, dan jika berpindah, mudah-mudahan ada harapan baru yang lebih baik.
Hanya perlindungan Allah saja yang akan memuaskan harapan seseorang terhadap kebutuhan keselamatan, di mana pun, dan kapan pun. Sallimna Rabbana, innaka antas salam, wa minka salam tabarakta yaa dzal jalali wal ikram. Amin.
G.Sanksi Sosial
Sebab stres lain adalah sanksi sosial dari masyarakat, sanksi sosial berbeda dengan hukuman yang biasa di jatuhkan pengadilan-pengadilan. Sanksi sosial biasanya bukan berupa hukuman fisik (kekerasan), namun akibatnya sangat pedih. Sanksi sosial biasanya diberikan jika seseorang telah melakukan tindakan-tindakan tidak senonoh yang sangat tercela dimata masyarakat. Setelah perbuatan itu dilakukan seseorang segera mendapat celaan dari masyarakat, citra negatif, caci maki, sumpah serapah, boikot, atau sanksi pengucilan. Kejadian terbongkar dan tersiar sacara luas. Di sini tidak dibutuhkan proses pengadilan yang berbelit-belit. Banyak perbuatan yang di mata hukum negara boleh-boleh saja, tapi dimata hukum sosial menjadi aib yang memalukan. Sanksi hukum negara bisa dijalani batas-batas tertentu tapi sanksi di mata masyarakat dalam memelihara bisa berlangsung selama orang itu masih hidup. Inilah cara masyarakat dalam memelihara kehormatan dan moral. Sebagian cara terpuji, sebagian lain tidak.
Misalnya, seseoramg terbukti telah terbukti korupsi, menjadi makelar pelacuran, melakukan zina, hamil diluar nikah, memperkosa wanita, meggugurkan kandunga, dan lain-lian, maka sanksi sosila akan segera menyambut orang itu jatuhnya sanksi itu sangat berat. Betapa tidak seseorang sepeti dimusuhi oleh orang sekampung. Walau masyarakat tidak menimpah hukuman fisik, tapi hati mereka memusuhi. Ini sangat berat dan ia berpontensial menimbulkan stres.
Mekanisme sanksi sosial kadang bisa menjatuhkan citra seseorang di mata publik, jika seseoramg sudah jatuh citranya, dia akan kehilangan untuk berkiprah secara leluasa di tengah-tengah masyarakat. Kadang upaya menjatuhkan citra itu dilakukan secara sengaja, tanpa bukti-bukti yang jelas. Hal, itu kerap disebut pembunuhan karakter (character assassination).
Akibat tekanan sosial, sebagian orang memilih pergi dari tempat tinggalnya, mencari tempat baru, bergaul dengan masyarakat yang berbeda, serta membangun hidup dari nol kembali. Sanksi sosial benar-benar berat. Hanya dengan pertolongan dan penjagaan dari Allah swt. Kita bisa terbebas dari belengguh-belengguh yang akan dikalungkan oleh orang-orang itu di leher kita, selama kita hidup. Semoga Allah melindungi kita semua. Amin.
H. Keyakinan Merusak
sebab selanjutnya yang berpotensi memicu stres adalah keyakinan (akidah) merusak. Ini adalah sebab terakhir yang saya sebutkan di sini. Keimanan yang benar adalah faktor yang paling kuat pengaruhnya terhadap kebahagian hidup manusia. Sebaliknya, keyakinan yang rusak (batil) merupakan sebab yang paling buruk yang akan mengundang kesempitan jiwa, kegelisahan hati, serta kesulitan yang tiada habisnya.
Sebagian kelompok-kelompok pengajian tertutup mengajarkan keyakinan yang sangat buruk. Di antara mereka mengemukakan konsep baiat. Di sini, seseorang yang masuk kelompok itu harus bersyahadat di depan orang-orang tertentu yang mereka tentukan. Proses syahadat itu kemudian disebut dengan baiat (transaksi). Setelah bersyahadat, dia baru diakui sebagai anggota kelompok. Bahkan, dia baru diakui sebagai muslim. Adapun orang-orang yang berada di luar kelompok itu dianggap kafir, sebab mereka belu berbaiat seperti aturan mereka. Baiat seperti ini telah banyak memisahkan para suami dan istrinya, anak-anak dari orang tuanya, serta saudara dari kakak-adiknya.
Kalau ditanya, mengapa seseorang harus bersyahadat lagi, padahal dia sudah muslim sejak kecil? Mereka menjawab, “di zaman rasul dulu, setiap orang yang masuk islam harus bersyahadat di depan rasul, maka kita oun harus bersyahadat seperti cara di zaman rasul dulu.”
Ketika diingatkan bahwa di zaman sekarang sudaj tidak ada Rasul, mereka menjawab, “Rasul itu bertindak selaku imam, maka kita sekarang harus bersyahadat di hadapan imam umat Islam.” Lalu siapakah Imam umat Islam sekarang? Mereka menjawab, “Dia adalah pemimpin yang dipilih untuk menegakkan hukum Islam. Dia adalah pemimpin kami,” lalu bagaimana jika setiap kolompok mempunyai iman sendiri-sendiri, siapa yang benar untuk diikuti?
Katakanlah, kita setuju dengan imam mereka lalu apakah setiap muslim wajib bersyahadat di hadapan dia? Mereka menjawab, “Tidak! Hal itu bisa dilakukan melalui wakil-wakil yang ditunjuk oleh imam tersebut. Mereka adalah pengikut setia imam melalui orang-orang itulah kita bersyahadat.”
Keimanan dianggap tidak sah jika seseorang belum bersyahadat di hadapan imam. Jika imam terlalu sibuk atau terlalu terhormat untuk menjadi saksi syahadat bagi orang-orang kecil, dia memberi hak kesakasian kepada wakil-wakilnya. Setiap orang yang “mau masuk Islam” harus bersyahadat di depan wakil imam. Wakil imam sebelumnya telah bersyahadat di depan atasanya. Demikian seterusnya, sehingga akhirnya puncak kesaksian berujung di posisi tertinggia, yaitu imam itu sendiri.
Saya bertanya-tanya dan hal ini bukti kehancuran keyakinan tentang baiat (syahadat) ulang itu. Pertanyaan saya adalah: lalu imam bersyahadat di hadapan siapa? Apakah dia bersyahadat sendiri atau dia bersyahadat dihadapan ulama-ulama yang masih “kafir”, lalu setelah itu ulama-ulama tersebut dilantik oleh imam menjadi muslim? Atau, dia di angkat menjadi pemimpin oleh pemimpin lain dari negeri seberang dengan cara yang sangat rahasia sehingga tidak satu pun rakyat yang tahu tentang pengangkatan itu?
Atau jangan-jangan, imam itu merasa telah bersyahadat di hadapan Allah dengan di saksikan para malaikat sehingga dia berani menerapkan syariat-syariat baru setelah Allah menyempurnakan agama ini? Na’udzubillah min dzalik. Itu adalah jalan Musailamah al-kadzdzab dan para pengikutnya.
Keyakinan yang batil sangat kuat pengaruhnya, sangat menganggu ketentraman jiwa, meresahkan hati, menimbulkan konflik, bencana, dan kesempitan berlarut-larut. Jika anda tahu atau mengalami kasus seperti ini, cepat tinggalkan semua urusan itu. Jangan sampai iman anda terlepas tanpa anda sadari. Orang-orang yang meyakini ada syariat baru setelah agama ini setelah agama ini disempurnakan oleh Allah, berarti mereka megingkari Rasulullah saw. Sebagai penutup para nabi. Itu artinya, mereka telah mengungcang akar keimanannya sendiri.
Konsep baiat ini hanyalah contoh kecil diantara berbagai penyimpangan akidah yang tumbuh subur diantara di tengah masyarakat. Umat Islam Indonesia disebut-sebut sebagai kaum yang terlalu longgar dalam soal keyakinan. Kita cenderung toleran terhadap siapa pun yang ingin mengembangkan “bakat” sebagai para “kreator” aturan-aturan baru. Wajar saja jika umat di negeri ini tidak berdaya, sebab mereka sangat bernafsu menempuh cara-cara baru yang sama sekali jauh dari keteladanan Rasulullah saw. Dan para sahabatnya r.a.
Keyakinan-keyakinan batil sangat merusak ketentraman hati, jika ia tidak segera mendapat solusi yang tepat, stres akan terjadi sesudah itu. Islam adalah ajaran hidup yang mudah, adil, dan seimbang, jika seseorang mengambil agama ini dengan cara yang tidak benar, akibatnya adalah penderitaan belaka.
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan megikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masuk ia ke dalam jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (an-nisaa’[4]: 115)
Demikianlah paparan tentang sebab-sebab stres. Meskipun pemaparan ini tidak tuntas benar, mudah-mudahan ia menjadi tambahan wawasan yang bermanfaat. Di bagian selanjutnya kita akan mulai membahas konsep-konsep solusi stres secara bertahap. Hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan taufiq. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar